tugas mpkmb

TUGAS MPKMB CERITA INSPIRASI 1

Nama              : Dian Pertiwi Wardani

NRP                 : H14100051

Laskar              : 13

Fakultas           : Ekonomi dan Manajemen

Departemen    : Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan

                Dian Pertiwi Wardani adalah nama saya, saat ini usia saya adalah 17 tahun. Hal yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi orang lain yaitu semangat, sifat pantang menyerah dan pola hidup sehat saya. Dikeluarga, saya termasuk anak bungsu, tetapi bukan berarti saya anak manja. Sejak sekolah dasar saya mengikuti les karate awalnya hanya coba-coba, saya mulai serius menjadi anggota karate saat masuk Sekolah Tingkat Akhir. Selain mempunyai ilmu bela diri hal positif yang saya rasakan yaitu saya jarang sakit karena karate juga termasuk olahraga yang baik untuk menjaga kondisi tubuh.

            Saya pernah mengalami kegagalan dalam berprestasi, sewaktu SD saya pernah mendapatkan nilai yang buruk di raport. Rasa malu sempat muncul dalam diri saya, karena kedua kakak saya termasuk orang yang pintar. Menjadi perbandingan di keluarga sangatlah membuat saya merasa tidak nyaman. Tetapi tidak menjadikan saya putus asa dan bahkan menjadikan motifasi untuk menjadi jauh lebih baik. Belajar dan berdoa merupakan kunci keberhasilan saya. Ternyata apa yang saya lakukan berbuah manis. Sejak Sekolah Menengah Pertama saya menjadi juara kelas, bahkan teman-teman memberi julukan Miss Math karena nilai Matematika saya sangat memuaskan. Saya sangat bersyukur karena mendapatkan nilai 100 pada pelajaran matematika diujian akhir nasional. Nikmat yang diberikan Allah SWT tidak berhenti disitu, mendapat undangan USMI IPB adalah suatu prestasi yang tidak ternilai.

            Semoga apa yang pernah saya dapatkan menjadikan bekal buat saya dalam mengukir prestasi di kampus Institut Pertanian Bogor. Saya yakin kuliah di Bogor yang jauh dari tempat tinggal, dapat membuat saya mandiri. 

TUGAS MPKMB CERITA INSPIRASI 2

Nama               : Dian Pertiwi Wardani

NRP                : H14100051

Laskar                         : 13

Fakultas           : Ekonomi dan Manajemen

Departemen     : Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan

Bob Sadino adalah seorang pengusaha sukses yang kisahnya sangat menginspirasikan saya. Pria berpakaian ”dinas” celana pendek jin dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, ini adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah. Pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket) ini adalah mantan sopir taksi dan karyawan Unilever yang kemudian menjadi pengusaha sukses. Saat ini usia beliau adalah 77 tahun tetapi jiwanya tetap semangat tidak kalah dengan jiwa anak muda. Beliau dikenal dengan sebutan Om Bob, yang hanya lulusan SMA tetapi berhasil menjadi pengusaha sukses.

Perjalanaan hidupnya tidaklah mudah, bahkan merantau ke Belanda selama sembilan tahun di Amsterdam pun dilakukannya selain itu beliau juga pernah  tinggal di Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Tetapi beliau memutuskan untuk kembali ke tanah air serta membawa pulang istrinya, mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar. Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta. Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, pembantu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah. Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang. Di saat melakukan sesuatu, pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. Menurut beliau yang paling penting tindakan.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan. Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Beliau adalah pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food(pabrik pengolahan daging) di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.